Dibangun untuk otak
yang nggak mau diajak kerja sama.
ExecuFunction dimulai sebagai tools untuk ADHD satu orang. Ia tumbuh jadi sesuatu yang lebih besar, tapi DNA-nya masih di sini. Setiap keputusan desain dibentuk oleh otak yang melawan struktur dan melupakan konteks.
Kenapa tools lain gagal untuk otak ADHD
Setiap app produktivitas berasumsi otak yang bisa:
- Menyimpan model mental dari semua tugas aktif
- Beralih konteks tanpa kehilangan benang merah
- Mengingat apa yang diputuskan dan kenapa
- Menindaklanjuti tanpa scaffolding eksternal
- Mengelola tools-nya sendiri tanpa jadi beban tambahan
Kalau otakmu bisa semua itu, kamu nggak butuh tools-nya.
Bedanya ExecuFunction
Cukup ngobrol.
Ceritakan ke AI apa yang terjadi. Ia membuat tugas, menetapkan prioritas, mencari waktunya, menghubungkannya ke proyek. Kamu bicara, sistem yang mengorganisir.
Memori diam-diam.
ExecuFunction mempelajari pola dan preferensimu lewat percakapan natural. Tanpa wizard onboarding. Ia memahaminmu seiring waktu.
Perencanaan berbasis realita.
Kalender menunjukkan apa yang benar-benar muat di harimu, bukan yang kamu harapkan secara optimis jam 9 pagi. AI melihat kapasitas nyatamu dan merencanakannya.
Konteks yang mengikutimu.
Berpindah antar proyek dan tugas tanpa kehilangan benang merah. ExecuFunction mengingat apa yang sedang kamu kerjakan dan kenapa, bahkan saat otakmu lupa.
Satu tempat untuk semuanya.
Kalender, tugas, catatan, kontak, proyek, kode, chat. Satu login, satu pencarian, satu AI yang melihat semuanya. Lebih sedikit app yang dikelola berarti lebih sedikit yang terlupakan.
ExecuFunction dibangun oleh seseorang dengan ADHD. Setiap fitur ada karena alternatifnya adalah menjatuhkan bola lagi, melupakan komitmen lagi, kehilangan benang merah lagi.
Ternyata, membangun untuk kasus tersulit membuat produknya lebih baik untuk semua orang.
Otakmu nggak perlu kooperatif. Sistemnya yang harus.
Pengguna baru mendapatkan 200 kredit gratis setiap bulan.